Meski Keterbatasan Fisik Indra Sukses Jadi Penulis Hingga Mendirikan Usaha Penerbit Buku

Meski Keterbatasan Fisik Indra Sukses Jadi Penulis Hingga Mendirikan Usaha Penerbit Buku
Indra Ramdan (18), penyandang disabilitas
Bagikan

  Meski memiliki keterbatasan fisik, penyandang disabilitas, Indra Ramdan (18) tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarya dan menggapai mimpi menjadi seorang penulis.

Pemuda yang tinggal di Lorong Pepabri 1 No.48, Thehok, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi ini, telah berhasil merampungkan novel berjudul “Bukan Puisi Bukan Juga Novel, Tapi D”.

Meski sedikit kesulitan dengan kondisi tanggannya, bermodalkan Handphone (Hp) Android yang dijadikannya sebagai perangkat untuk menulis buku. Indra mampu menyelsaikan karya perdananya itu.

Buku itu menceritakan perjalanan hidupnya sebagai penyandang disabilitas. Bukan keputusasaan, tetapi tentang kesabaran dan perjuangan dalam menghadapi tantangan hidup, termasuk diskriminasi.

Indra lebih suka menyebutnya sebagai buku motivasi. Sebab, melalui buku itu ia memberikan semangat kepada sesama penyandang disabilitas.

“Melalui buku itu, saya mengajak orang yang merasakan hal yang sama, untuk bergabung dengan saya dan berjuang,” ujarnya, Sabtu (17/4).

Ia berharap, mereka yang membaca buku ini, dapat membuka pandangannya untuk tidak meremehkan kaum disabilitas.

“Dan mengerti bahwa orang orang seperti kami punya kemampuan dan kesempatan yang sama seperti mereka,” katanya.

Indra kini tengah menulis bukunya yang kedua. Ia memberitahukan bahwa penyandang disabilitas bisa berperan aktif dalam masyarakat, melalui buku kedua tersebut.

Termasuk dalam bidang ekonomi, kata Indra, kaum disabilitas tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, mungkin saja ada ide kreatif yang dapat hadirkan oleh mereka.

“Jadi bersama mereka dapat mengembangkan usaha, serta menikmati keuntungannya bersama, demi kesejahteraan yang lebih baik,” tegasnya.

Tidak hanya aktif sebagai penulis, Indra juga mendirikan penerbitan yang bernama D’familiy. Media penerbitan itu, baru berumur sekitar 9 bulan.

Penerbitan D’familiy masih berkerja sama dengan penerbitan yang sudah berdiri lama. Sebab, penerbitan itu belum mempunyai perangkat percetakan.

Walau demikian, penerbitan yang didirikan Indra sudah menghasilkan sejumlah buku. Buku-buku itu, dapat dilihat dan dipesan melalui akun Facebook “D’familiy”.

Melalui D’familiy, Indra juga membantu sesama penulis. Bersama rekan kerjanya, ia sempat mengadakan even karya tulis cerpen dan puisi, untuk dimuat dalam buku.

Indra bahkan telah mengadakan seminar pelatihan menulis secara virtual sebanyak 4 kali. Penulis yang diundangnya berasal dari berbagai daerah.

“Sekarang, kami sedang mempersiapkan langkah untuk menaikkan gagasan permodalan usaha, pembuatan pasar, serta pelatihan untuk memperdayakan kaum disabilitas atau siapapun yang membutuhkan,” tuturnya.

Indra memang memiliki jiwa sosial yang tinggi. D’familiy sebenarnya juga untuk memberdayakan sesama kaum disabilitas. Ia ingin menggapai cita-citanya untuk menjadi penulis ternama, serta menghasilkan karya yang bermanfaat, bersama-sama.

Kondisi Keterbatasan Fisik yang dialami Indra, sebagai penyandang disabilitas, Indra tidak bisa menggunakan kaki untuk berjalan dengan normal. Ia berjalan dengan menggunakan sepasang lutut beralaskan celana panjang.

Tangannya pun tidak sempurna, sehingga ia kesulitan menggenggam sebuah benda. Karena itu, saat melahap makanan berat, Indra harus disuapin oleh ibundanya.

Walau kesulitan saat berbicara, ucapannya masih bisa dimengerti. Ada kalanya Indra berbicara tentang sejarah dan filsafat.

Indra masih bisa menggunakan Android dengan meletakan di kursi. Ketika membuat karya tulis, ia memanfaatkan fitur Auto Correct.

Perjuangan Indra, ternyata menarik perhatian penulis bernama Yulia Nur Nun (24) asal Lombok Timur. Penulis itu sedang menulis biografi tentang Indra Ramadan.

“Saya tertarik bagaimana seorang Indra Ramadan, berjuang dalam sebuah keterbatasan. Padahal, kita saja yang hidup dengan kesempurnaan fisik, kadang masih enggan berbuat,” katanya.

Buku yang ditulis Yuli, sudah mencapai 15 persen dari target. Jika buku itu sudah terbit, ia berharap kisah Indra Ramadan dapat menginspirasi banyak orang.

“Jadi, motivasi saya adalah menyampaikan kabar-kabar semangat, serta inspirasi pada kawan-kawan muda di Indonesia, agar tak terhalang dengan keterbatasan,” tuturnya, perempuan yang juga berprofesi sebagai editor di salah satu media siber yang berpusat di Nusa Tenggara Barat.

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )

Anda dilarang menyalin konten situs ini!