Makna Mendalam Pakaian Adat yang Dikenakan Jokowi Pada Peringatan Hari Lahir Pancasila

Makna Mendalam Pakaian Adat yang Dikenakan Jokowi Pada Peringatan Hari Lahir Pancasila
Presiden RI Jokowi memakai baju adat Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan dalam upacara peringatan hari lahir Pancasila, Selasa (1/6/2021)

Orbid.id – Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Selasa (1/6) dipimpin langsung oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Pada upacara yang disirakan secara live di televisi dan youtube tersebut, Presiden RI Jokowi tampak memakai jas bewarna hitam dengan ornamen emas, ditambah dengan Sarung Tenun khas Pagatan yang melingkar di pinggang serta kain tenun bewarna hijau sebagai penutup kepala.

Pakaian yang dikenakan oleh Presiden RI Jokowi ini merupakan baju adat Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Ciri khas dari baju adat Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, terlihat dari penggunaan kain tenun Pagatan. Kain ini biasanya dipakai sebagai sarung dan juga laung atau penutup kepala.

Dilansir dari beragam sumber, makna sarung yang dipakai dalam baju adat ini adalah sebagai simbol manusia yang terampil dan pekerja keras.

Sementara simbol Laung sebagai kewibawaan dan keperkasaan. Bagian dalam baju disebut teluk balana yang menjadi simbol baju nusantara yang agamis.

Sedangkan, baju bagian luar dinamakan cekak musang tanpa kancing bermakna tingginya budi pekerti dan selalu menghargai perbedaan. Celana panjang dan ikat pinggang juga punya arti khusus. Celana menjadi simbol kesetiaan, dan ikat pinggang kain mewakili simbol kesederhanaan.

Sebagai pelengkap ada ornamen emas di dada bagian kiri sebagai simbol pemimpin yang bijaksana.

Dalam sambutannya, Presiden RI Jokowi mengungkapkan bahwa, peringatan Hari Lahir Pancasila di setiap tanggal 1 Juni ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk mengokohkan nilai Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Meskipun Pancasila telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Tanah Air, namun Jokowi berpendapat sepanjang republik Indonesia ini berdiri tantangan yang dihadapi Pancasila tidaklah semakin ringan.

“Globalisasi dan interaksi antar belahan dunia tidak serta merta meningkatkan kesamaan pandangan dan kebersamaan,” kata Jokowi, Selasa, (1/6).

Perkembangan global pun, lanjut Jokowi tak jarang menimbulkan kompetisi dan rivalitas antar pandangan, antar nilai dan antar ideologi.

“Ideologi transnasional cenderung semakin meningkat memasuki berbagai lini masyarakat dengan berbagai cara dan strategi,” tegasnya.

Bagikan
CATEGORIES

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )

Anda dilarang menyalin konten situs ini!